Obedience in Impossibility

Tema Desember           : Live In Obedience (Hidup Dalam ketaatan)

Judul                                : Obedience in Impossible (Ketaatan Di Dalam Segala      

  Ketidakmungkinan)

Pembicara                      : Pdt. Stefanus R. Budiman

Lukas 5:1-7

Bagian dari cerita dalam perikop di atas adalah pasca Simon dan rekannya berupaya menangkap ikan semalaman dan hasilnya nihil. Hari itu Yesus menggunakan perahunya untuk mengajar. Selanjutnya Yesus mengajak ke tengah yang lebih dalam lagi, dan memerintahkan untuk menebar jala, hasilnya ikan melimpah, hampir membuat jala koyak dan perahu nyaris tenggelam.

“I know the power obedience has of making things easy which seem impossible” — Teresa Avila.

Ada tiga pembelajaran dari kisah tersebut di atas yaitu suatu ketaatan yang menghasilkan mukjizat atau hasil yang kelihatannya mustahil.

  1. Dare to believe.

Keberanian untuk percaya / dare to believe adalah pintu untuk mengatasi ketidakmungkinan. Untuk bisa mengalami mukjizat harus ada sikap untuk berani percaya kepada Yesus. Dalam Lukas 5:5, Petrus berkata, “tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Yesus sedang membangun keyakinan agar orang beriman kepada Yesus dan di sini Simon mampu keluar dari rasa frustrasi tidak mendapat ikan. Yesus sedang menumbuhkan sikap terbuka yang membangun keyakinan dan pengenalan pada diri Simon akan siapa Yesus sesungguhnya. Hasilnya imbauan ditanggapi positif, jala ditebar, menunjuk ketaatan dan keberanian mempercayai.

“Faith is living, daring confidence in God’s grace, so sure and certain that a man could stake his life on it a thousand times.” — Martin Luther. 

  • Act above capabilities.

Bertindak melampaui kemampuan kapasitas. Kita harus berani bertindak melampaui abilitas.  Dalam Lukas 5:4, Yesus berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Tukang kayu menasihati nelayan yang kompeten dan berpengalaman. Sikap menaati, merujuk berani melangkah melampaui abilitas.

“It always seems impossible untuill it is done.” — Nelson Mandela.

  • Act beyond situation.

Bertindak melampaui situasi. “Membasuh jala” dan “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:2,4). Semalaman tidak mendapat ikan, ketika membereskan jala, Yesus menggunakan perahunya, kemudian diminta menebar jala. Yesus mendorong Simon berani bertindak mengatasi kemapanan, kebiasaan dan perasaan tertentu. Tindakan merefleksikan keyakinan yang melampaui situasi dan kondisi tertentu. Hidup adalah rangkaian upaya mencapai yang lebih baik. Dituntut keterbukaan, upaya dan ketabahan. Pentingnya melakukan langkah-langkah kecil berani yang mengatasi kemustahilan.

“Forces beyond your control can take away everything you possess except one thing, your freedom to choose how you will respond to the situation.” — Victor Francle

Relevansi dengan hidup kita saat ini ada tiga hal yang harus kita lakukan agar kita mengalami mukjizat dan kemustahilan ketika kita tunduk dalam ketaatan:

  1. Belajar menyadari bahwa Yesus menyertai kita dan hadir dengan kita dan tidak pernah sesekalipun meninggalkan kita.
  2. Belajar terfokus pada Yesus dalam dinamika kehidupan. Kita harus mempersilahkan Yesus bekerja dalam hidup kita.
  3. Belajar melibatkan Yesus dalam setiap pergumulan hidup sehari-hari.

Aplikasi:

Bagaimana kita meyakini bahwa Allah hadir dalam setiap waktu kehidupan kita.

Berikan kesempatan untuk Allah menunjukkan kuasa-Nya dalam hidup kita.

Sharingkan!

                                                                                                                                                                             [HP]

You may also like...