Experience The Power of Giving

Tema September : RENEW MY ATTITUDE            

Sub Tema               : EXPERIENCE THE POWER OF GIVING

Ayat                         : II Kor 9:6-12

 

 

Dalam memberi kepada Tuhan, ada hal yang harus dipahami, yaitu bukan seberapa sering atau seberapa banyak kita memberi, tapi bagaimana sikap hati kita ketika memberi kepada Allah.

  1. Sikap hati yang pertama dalam memberi adalah karena kita mengasihi Allah. (Yohanes 3:16).

Allah mengasihi dunia, sehingga Ia memberikan anakNya, demikian juga ketika kita memberi, seharusnya yang menjadi dasar ketika kita memberi adalah karena kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian kita mencerminkan citra Allah.

Seseorang dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi tidak seorangpun dapat mengasihi tanpa memberi.

 

  1. Sikap hati yang kedua dalam memberi adalah karena percaya kepada Allah.

Memberi merupakan sebuah indikator apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Allah.

Percaya artinya bersandar atau mengandalkan. Dapatkah kita mempercayai Allah dalam segala situasi. Ketika kita memberi, sebenarnya kita sedang bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.

Amsal 3:5-10, Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian kita sendiri. Jangan menganggap diri kita sendiri bijak.  Artinya jangan percaya kepada pengertian kita sendiri tentang keadaan kita saat ini lebih dari kita percaya kepada Tuhan.

 

Faktanya, memberi tidak selalu enak dan menyenangkan, tapi janji Allah orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak-sorai (Maz 126:5). Hal yang lainnya adalah ketika kita hanya fokus pada keadaan kita (kekurangan, keinginan dll), ini akan menyebabkan kita memiliki banyak alasan untuk tidak pernah menabur.

 

  1. Akibatnya kalau kita memberi dengan sikap hati yang benar:
  • Membuat kita menjadi lebih sehat secara rohani.

Bukan hanya menerima saja tapi berani memberi, yang artinya menjadikan diri kita saluran berkat Allah.

  • Ada Janji Tuhan yang akan dialami oleh hidup kita (2 Kor 9:8).
  • Bahkan benih untuk menabur Allah sendiri yang menyiapkan (2 Kor 9:10).

Pertanyaan dan Aplikasi :

Memberi dengan murah hati merupakan refleksi dari kasih kita kepada Allah.  Tindakan memberi dalam situasi keterbatasan atau kekurangan, mengajar kita untuk mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah.

Seperti pengorbanan dari seorang janda di Sarfat, yang di tengah kekurangan dan keterbatasan hidupnya, rela untuk menyisihkan persediaan makanannya yang terakhir untuk Elia (1 Raja 17:8-16).  Dan kenyataannya janda ini mendapatkan penyediaan dari Allah, dan tidak berkekurangan dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah janji Allah, dan juga merupakan prinsip rohani yang tidak akan berubah.

 

Apakah Anda berani mengambil langkah iman untuk berkorban seperti yang dilakukan oleh janda di sarfat ini? Sharingkan!

 

You may also like...